Minggu, 05 Februari 2012

REVOLUSI SOSIAL ERA BARU PERADABAN SOLOKURO

Tentang Solokuro

Sampai era 80-an, Solokuro merupakan desa kecil yang masih menginduk pada kecamata Paciran. Desa Solokuro kala itu benar-benar sangat terpencil dan ‘terbelakang’, Jangankan listrik, lampu petromak-pun hanya dimiliki oleh beberpa orang saja. Akses menuju Solokuro dari arah Paciran harus dilalui dengan angkutan dengan tujuan akhir sampai desa Payaman saja, selebihnya menuju desa Solokuro harus dilanjutkan dengan jasa omprengan.

Bicara mengenai jalan, jangan ditanya, kondisi jalan dari Paciran sampai Solokuro hanya mulus sampai desa Sendang, keluar dari desa Sendang apalagi di daerah Kimas batu-batu dengan ukuran besar ‘pating pedisil’ dan tercerabut dari struktur jalan, sehingga sangat susah untuk dilalui dan tentu saja ‘nggronjal-nggronjal’.

Itulah gambaran akses menuju desa Solokuro, bagai arena off road penuh perjuangan, ditambah letak yang ‘nyempil’, tidaklah mengherankan apabila Solokuro kurang familiar bahkan dilingkungan orang Paciran sekalipun, jika ditanya mengenai Desa Solokuro sebagian besar mengungkapkan ketidak tahuan-nya “Solokuro...? daerah endhi toh kuwi...?”.

Saking ‘teralienasi-nya’ dengan wilayah lain yang lebih maju, warga Solokuro kalau sudah pergi ke Paciran saja, rasa-rasanya sudah menyaksikan suasana kota yang begitu megah, dan sepulang dari Paciran segala cerita menarik pun dituturkan ke teman atau tetangga sekitar, apalagi anak-anak kecil dengan semangat akan menceritakan suasana Paciran dengan semangat. “Aku mau ero kol tlisir (sebutan tentang mobil sedan yang berbentuk kecil mungil), aku yo ero trek guwede, ono bis barang” ungkapan kekaguman akan mobil yang agak besar yang belum tentu sebuah bus. Ya, itulah kondisi masyarakat Solokuro beberapa tahun yang lalu yang begitu ‘terasing’ dari dunia luar.

Kondisi perumahan warga Solokuro juga belum sebanyak dan seluas sekarang. Deret perumahan warga desa membentang/memanjang dari ujung kulon ke ujung wetan. Mungkin berdasarkan landscape desa inilah, masyarakat Solokuro kemudian membagi dua kelompok besar dalam hal posisi (njar) yaitu njar kulon dan njar wetan. Seperti sekolah kulon itu artinya sekolah Muhammadiyah yang letaknya di kulon, madrasah wetan yang artinya adalah madrasah Ma’arif dan masih banyak lagi sebutan dengan menyebut dua mata angin tersebut sebagai kata penjelas seperti langgar kulon, langgar wetan, pasar kulon dan pasar wetan dsb. Garis pemisah antara njar kulon dan njar wetan adalah kali yang posisinya hampir persis di tengah-tengah desa.

Secara Posisi, paling ujung barat adalah gerdu kulon (posisinya antara rumah bapak Naji dan Dol Muttaqien), di sebelah timur mentok pada rumahnya saudara Irjik (yang sekarang ada bengkelnya). Sedangkan lebar desa Solokuro disebelah timur ditandai dengan adanya dua gerdu yaitu di belakang balai Desa (sebelah selatan jalan) dan di bagian utara di depan Loji (rumah dinas mantri perhutani) atau depannya madrasa wetan. Sedangkan di ujung kulon lebar desa ditandai dengan gardu kulon yang di antara rumah dul Muttaqin dan pak Naji sedangkan batas selatannya ada di baratnya rumah saudari Masula/mertuanya bapak Taufiq.

sebagai ilustrasi berikut adalah gambaran desa Solokuro sebelum pencaran.



Permuhan penduduk pun tidak jauh jaraknya dari gardu-gardu tersebut, di sebelah barat belum ada yang sampai mencar ke Sangan, sebelah timur-selatan dibelakang gerdu kidul wetan ada beberapa rumah yang keberadaannya memang sudah relatif lama, tetapi tidak sampai mentok barongan (pager dada), paling selatan adalah rumah keluarga bapak Taseman. Sedangkan di sebelah utara gerdu utara (belakangya loji) juga sudah ada beberapa rumah semisal rumahnya mas Anam bu Tamami, bapak Rozikin, dan rumah keluarga bapak Solata (bapak Solata ini entah sekarang berdomisili dimana ya?) dan sekitarnya. Lalu bagaimana posisi Mrican yang sekarang seolah menjadi kawasan satelit desa?

berikut adalah gambaran desa Solokuro sesudah pencaran



Desaku Riwayatmu Dulu

Mrican dulu sama seperti Sangan merupakan ladang atau tegalan, beluam ada rumah penduduk. Batas antara mrican dan desa penduduk masih barongan lebat yang disebut pager dada (sekarang posisinya di jalan baru selatan yang nembus madrasah kulon). Di selatan pager dada adalah ladang milik keluarga alm. H. Suwindi yang sekarang sudah penuh dengan beberapa rumah, diantara nya rumah keluarga pak guru Shodiq, bapak Sakur, dll. Di sebelah Selatan lagi merupakan ladang punya bapak-nya saudara Mat Tasim (posisi sekarang disekitaran rumah ibu Umiyah atau Mat Gufron), ke barat sedikit merupakan tegalan punya alm. Haji Nur dan Hj. Yatonah yang posisi sekarang ada di mushollah Mrican, bapak Marlan sampai rumah bapak Suraji dan sekitarnya. Di sebelah baratnya lagi merupakan ladang punya Bapak-nya bapak Carik (sekarang rumah nya siapa saja ya yang di sana?), ke barat lagi sampai agak ke utara dulu sebutannya adalah kebon salah satu pemiliknya adalah bapak Amin (ayahnya Suzari) yang sekarang sudah berdiri rumah ibu Senikah/wa’gus Ngaslim dan lain-lain.

Lalu sejak kapan Solokuro berkembangan sampai memiliki kawasan satelit (pencaran)seperti sekarang ? perlu diketahui kawasan pencaran itu ada 4 lokasi yaitu Mrican, Sangan, kawasan mbranak (blok kubur) dan ndandu sigar.

Dahulu wilayah Mrican sampai kebun jika musim kemarau tiba merupakan tempat favorit untuk ngunjukno layangan dan main perang-perangan dengan senjata bedil-bedilan. Mainan ini dibuat dari cabang bambu yang agak besar yang disebut pangpel. Sebagai pelurunya, bedil-bedilan memerlukan amunisi yaitu kembang klampok (memanfaatkan kembang klampok yang jatuh dari pohonnya), ada lagi pluru yang lebih praktis yaitu kertas yang direndam dalam air, walaupun pluru kertas ini kurang begitu favorit karena suara yang dihasilkan kurang begitu ‘menyelak’. Ada lagi peluru yang lebih dahsyat namun cara mendapatkannya lumayan susah yaitu buah mengkalot. Buah ini banyak terdapat di pagar-pagar tegalan yang berada di nDandu, Mabang ataupun nggunung. Pluru mengkalot jika sudah meletup sangat dahsyat dan kalau buat menembak juga sangat jitu sebanding dengan cara susah untuk mendapatkannya. (saya kurang tahu apa anak-anak Solokuro masih ada yang tahu tentang buah mengkalot ini? Semoga ada manfaat lain dari mengkalot agar dia tetap terjaga kelestariannya).

Sosok yang pertama kali mulai pencaran di Mrican adalah mbah Jab (ayahnya bapak Achmad Lazim Sekdes Solokuro, atau mbah-nya Vivi) dengan mendirikan kandang sapi. Lokasinya sekarang pas sebelah selatan rumah saudara Kholid. Kandang sapi itu sangat strategis karena dekat dengan jalanan, sehingga sering kali dijadikan tempat transit oleh bapak-bapak yang mau atau dari ngarit untuk jandonan. Apalagi di kandang mbah Jab itu juga disediakan fasilitas ungkal, sehingga semakin menambah daya tarik bapak-bapak yang mau ngarit untuk singgah, disamping ngasah arit juga sebagai arena untuk ngobrol-ngobrol.

Bagaimana dengan nDandu Sigar? Pencaran paling wetan dulu hanya sampai belakang madrasah wetan (rumahnya keluarga si kembar Rif’an dan Rifa’i, ibunya saudara Tarsono/mat Zainul dan wa’gus Shoqib) walaupun ada yang sudah sangat jauh letaknya yaitu rumah ibu Saiyem/Esla ibunya saudara Kacong yang berada disamping kali wetan selatan ngladak ndandu Sigar, hanya satu rumah itu yang posisinya paling jauh.

Berbarengan dengan geliat warga untuk mencar, Awal 80-an, beberapa warga Solokuro mencoba untuk menggapai keberuntungan dengan menjadi tenaga kerja di luar negeri, tujuan mereka adalah negeri jiran Malaysia dan sebagian ke Besuki. Siapa saja yang mulai berangkat ke Malaysia? Yang ada dalam ingatan penulis yang memulai menjadi generasi pertama merantau ke Malaysia adalah Bapak Iskhak (mertuanya saudara Muslik), Ibu Nafsakhah (adiknya bapak Sampurno) beserta suami pertamanya Bapak Muhson, Bapak Kuri dan Bapak Mudzakir (pamannya Pak Guru Ali Mahfud). Mereka-lah generasi awal yang memulai petualangan ke Malaysia di awal tahun 80-an. Sedangkan yang merantau ke Besuki juga sangat banyak, walaupun lambat laun jumlahnya mulai berkurang.

Bebera tahun berikutnya, para generasi pertama itu pulang ataupun berkirim khabar. Ya, mungkin salah satu berita yang disampaikan adalah ketersediaan lapangan kerja di Malaysia yang luar biasa besar. Oleh karena itumenjadi daya tarik sebagian besar warga terutama generasi muda untuk berangkat ke Malaysia.

Ketertarikan warga untuk pergu ke Malaysia disamping adanya lapangan kerja, juga adanya dorongan untuk maju. Sebagai petani, penghasilan sawah dan ladang dinilai sudah tidak signifikan lagi untuk menunjang kehidupan yang semakin dinamis. Semakin hari-semakin banyak warga yang pergi merantau ke Malaysia dan monco ke Besuki.

Gerakan ke Malaysia dan Besuki ini berdampak luar biasa bagi kehidupan masyarakat Solokuro dari segi ekonomi. Awalnya hasil merantau itu untuk memenuhi beberapa perabot atau kebutuhan setiap hari-hari yang selama ini memang sangat kurang. Sebagai contoh bisa dibayangkan, pesawat televisi (TV) waktu itu hanya ada di Loji (rumah dinas mantri hutan) saja. Lambat laun (dalam jangka waktu yang sangat lama) baru bertambah satu demi satu seperti pak Solkan/Dol Kholiq, alm. Hj. Sumi’ah, pak Ali dan sebagainya, tentu tidak ketinggalan hasil dari Malaysia yaitu Bapak Kuri.

Ada cerita seru ketika masyarakat menyaksikan TV punya bapak Kuri, TV beliau dilengkapi filter yang berwarna biru didepan layarnya sehingga umum seisi kampung kalau bapak Kuri punya TV berwarna. Rejo-nya lagi bapak Kuri kalau lagi nyetel TV, TV-nya dikeluarkan dari rumah sehingga masyarakat tumpah ruah dijalanan untuk menyaksikan siaran TVRI (satu-satunya stasiun televisi pada saat itu) dengan gembira.

Bulan berganti tahun, seiring berjalannya waktu semakin banyak warga yang memiliki TV, bahkan dengan hadirnya listrik bertenaga diesel masyarakat mulai mengganti TV-TV mereka dengan TV berwarna walaupun hanya mampu dinikmati sampai jam 11 malam karena diesel akan dimatikan pada jam tersebut.

TV, tape dan beberpa perabot modern sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan bagi warga Solokuro, dan ternyata tidak berhenti sampai disitu masyarakat Solokuro yang selama ini kesulitan dalam hal transportasi menjadikan motor sebagai barang yang kudu dimiliki.
Motor atau orang Solokuro menyebutnya honda dahulu mungkin hanya ada dalam angan-angan, karena barang ini relatif sangat mahal. Tidak heran motor hanya dimiliki oleh beberapa orang saja, sepengetahuan penulis yang memiliki sepeda motor adalah bapak Ponadi (bapaknya saudara Miptakul suami bu bidan Ertin atau Hendri), bapak Ngaji’un, pak Ali kemudian menyusul bapak Aluwan, bapak Umbar, bapak Sonhaji (sekarang berdomisili di Surabaya), bapak Mat Solani dan lain sebagainya.

Bahkan beberapa motor model baru-pun mulai ada di Solokuro, teringat ketika bapak Mukin membeli sepeda motor baru merk Honda Super Cup75. Motor ini begitu bagus dan masih baru ‘gres ewes-ewes’ serta banyinya sangat halus nyaris tidak terdengar sehingga terkenal dengan honda gak ono unine.

Majunya tingkat ekonomi warga juga berdampak signifikan bagi kemajuan pendidikan. Era 80-an kendala untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi adalah karena keterbatasan biaya. Walaupun penting untuk dicatat, bahwa warga Solokuro walaupun sebagian besar berprofesi sebagai petani, sepengetahuan penulis kesadaran warga akan pendidikan sangat tinggi. Ini bisa dibuktikan, betapa anak-anak muda itu walaupun pagi harinya harus kerja keras di sawah atau ladang, ngarit dsb, tapi siang harinya dengan sepeda ontel mereka tetap bersemangat untuk bersekolah yang letaknya rata-rata di luar desa. Spirit ini yang harus kita jaga, sungguh luar biasa.

Dukungan ekonomi yang semakin baik seolah menghempaskan segala penghalang anak-anak muda Solokuro untuk tetap terus maju dan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Bahkan selepas madrasah tingkat dasar, umumnya anak-anak Solokuro sangat bersemangat untuk melanjutkan ke pondok pesantren. Dan sampai hari ini dampak ekonomi yang membaik juga dibarengi dengan tingkat pendidikan yang lebih baik pula. Intinya saling mendukung, ada yang bapaknya atau orang tuanya pergi ke Malaysia sang anak melanjutkan belajarnya di rumah atau pondok pesantren, ada kalanya juga sang kakak yang berangkat ke Malaysia sang adik yang meneruskan pendidikannya di rumah Indonesia.

karenanya harus diakui jasa para pelancong atau orang-orang yang dengan gagah berani mengubah kehidupan Solokuro patut diakui sebagai tonggak perubahan sejarah Solokuro. Walaupun perlu diingat bahwa dengan semakin majunya desa kita tercinta tidak kemudian menjadikan kita masyarakat Solokuro mengalami culture Shock yang mengakibatkan kita berprilakuku hedonist.

kita tetaplah masyarakat Solokuro yang memiliki budaya dan prilaku yang baik serta memiliki kerukunan yang patut dibanggakan, membaiknya kehidupan ekonomi semoga tidak menjadikan kita tercerabut dari nilai-nilai luhur agama dan budaya masyarakat Solokuro. semoga

Jumat, 16 Desember 2011

PERTANIAN ORGANIK SOLUSI PERTANIAN MODERN



Posisi geografis Indonesia memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Letaknya yang dilalui oleh garis katulistiwa, menjadikan Indonesia dari dulu memiliki jargon tanah yang subur makmur, gemah ripah loh jinawi. Jargon tersebut bukannya tanpa sebab karena hampir semua daratan Indonesia adalah lahan produktif bagi pertanian, dan hanya sedikit dari daratan Indonesia yang kurang memiliki kesuburan tanah di atas rata-rata. Daratan dengan kualifikasi ini umumnya terdapat di daerah-daerah timur Indonesia yang tekstur tanahnya cenderung berbatu dan kering. Namun demikian, daerah tersebut justeru memiliki potensi bagi tumbuhnya tanaman-tanaman khas, seperti Jagung, jambu mete, pohon lontar dan lain sebagainya, dimana tanaman-tanaman tersebut juga memiliki potensi pasar yang sangat besar bagi peningkatan ekonomi bangsa.

Letak geografis yang memberikan kesuburan tanah Indonesia ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan capaian hasil-hasil pertanian yang membanggakan. Terbukti, sampai sekarang ini Indonesia belum mampu untuk berswasembada beras yang posisinya adalah sebagai kebutuhan pokok bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Tentu kalau menilik potensi SDA yang ada bukan faktor tersebut yang mengakibatkan produktifitas pertanian di Indonesia berjalan lamban, yang perlu mendapat sorotan adalah program atau sistem pertanian yang dikerjakan di Indonesia.

Jika memperhatikan sistem pertanian di Indonesia, sebagian besar masih dikerjakan secara tradisional (untuk tidak menyebut “seadanya”), dimana posisi petani adalah orang yang paling berkepentingan terhadap sistem pertanian itu sendiri. Thus, pertanian Indonesia seakan hanya untuk memenuhi kebutuhan skala mikro an sich, yaitu petani dan keluarganya. Padahal, seyogyanya Indonesia dengan lahan pertanian 191.946.000 ha mampu menjadi lumbung pangan dunia yang pada saat sekarang ini kebutuhan akan bahan pangan dunia terus meninggi (Kompas, 7 Februari 2011), dan tidak sebaliknya Indonesia justeru memperkeruh kondisi pangan dunia dengan melakukan kebijakan fiskal dengan peniadaan bea masuk impor pangan, ini artinya pemerintah sama saja tidak mengutamakan produktifitas pangan nasional.

Sistem pertanian tradisional semacam ini pasti sangat sulit untuk berkembang, dan petani (baik pemilik apalagi penggarap lahan) akan selalu jauh dari kemakmuran. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi ekonomi petani Indonesia yang mengandalkan pertanian sebagai satu-satunya gantungan hidup, ketika mereka sedikit saja keluar dari wilayah makan untuk memenuhi kebutuhan skundernya maka hasil pertanian itu sungguh tidak signifikan.

Mensejahterakan petani Indonesia dengan total penduduk 260 juta jiwa dimana 41 juta penduduknya adalah petani memang tidaklah mudah, setidaknya dibutuhkan konsep pertanian besar tetapi tetap merakyat, sehingga muara kemakmuran adalah pada petani, bukan pada tengkulak atau pedagang agribisnis semata. konsep pertanian rakyat hemat penulis memiliki konsep yang sederhana, meliputi pengelolaan pertanian (termasuk pengolahan lahan dan perlakuan tananaman) serta pengelolaan pasca panen.

Bagaimana kondisi petani pada saat pengelolaan pertanian? Tidak asing terdengar di telingah kita ketika memasuki musim tanam, petani akan dihantui oleh sejumlah kelangkaan. Mulai dari kelangkaan pupuk, kelangkaan bibit dan terkadang kelangkaan obat-obatan. Padaha ketersediaan Pupuk, Bibit dan Obat-obatan merupakan bagian tidak terpisahkan dari pertanian (rakyat), ketika satu saja dari elemen tersebut tidak tersedia maka hasil pertanian –pun tidak akan maksimal. Kelangkaan bibit mendorong petani untuk menggunakan bibit seadanya yang tidak memenuhi standar mutu benih, sehingga bisa dipastikan tanaman yang tumbuh-pun tidak memiliki kualitas yang baik. Demikian juga dengan minimnya ketersediaan pupuk di petani, akan menjadikan tanaman yang ditanam merana dengan masa depan panen yang tidak jelas.

Belum terkawalnya regulasi pemerintah tentang pendistribusian pupuk serta obat-obatan sampai ditangan petani merupakan persoalan serius yang harus segera diselesaikan, sehingga terhindar dari permainan oknum tidak bertanggungjawab memanfaatkan momentum kebutuhan tersebut untuk “lebih mencekik leher petani” dengan menimbun serta menjual kebutuhan pertanian dengan harga tinggi.

Petani di Indonesia memang sebagian besar belum bisa melepaskan diri dari ketergantungan pupuk dan obat-obatan kimia. Walaupun untuk jangka panjang, pertanian dengan menggantungkkan pada pupuk dan obat-obatan kimia akan semakin memperpuruk kondisi kesuburan tanah dan kerentanan akan serangan hama dan penyakit.

Penggunaan pupuk kimia memang menjadikan tanah pertanian subur secara instan, karena unsur hara yang mensuplai kesuburan tanah tidak ikut terbaharui dengan penggunaan pupuk kimia ini. Oleh karenanya, penggunaan pupuk kimia tidak ubahnya sebagai suplemen yang memforsir kesuburan tanah dalam waktu singkat tanpa menghiraukan ketersediaan unsur hara yang masih dikandung oleh lahan pertanian tersebut. Kondisi ini lambat laun akan mengikis kesuburan tanah/lahan yang terus dieksploitir.

Setali tiga uang, penggunaan pestisida dan obat-obatan kimiawi memang dengan cepat mampu mengusir hama dan mengobati penyakit tanaman. Namun, sampai kapan hama dan penyakit itu mempan dengan obat-obatan kimiawi tersebut? Sebab hama dan penyakit lambat laun akan membangun kekebalan tubuh terhadap obat-obatan kimia. Meracik dan menciptakan bahan kimia baru juga bukan merupakan solusi tepat untuk mengatasi hal ini, sebab disamping keevektifitasan-nya yang tidak sebanding dengan perkembangan hama dan Penyakit, unsur kimia dalam pestisida ini juga tidak bisa hilang pada hasil produk pertanian yang akan dikonsumsi oleh manusia. Jadi produk pertanian dengan menggunakan pestisida kimiawi cenderung mengarah pada makanan yang tercemar.

Beberapa negara telah memberlakukan peraturan ketat tentang bahan pangan yang mengandung kimiawi ini. Sejalan dengan hal tersebut maka banyak negara yang hanya mau mengimpor bahan makanan yang bebas dari unsur kimiawi.

Pertanian Organik sebagai Solusi

Melihat perkembangan dunia pangan khususnya produk pertanian dewasa ini, sudah menjadi keharusan apabila pertanian dilaksanakan secara organik. Potensi mengembangkan pertanian organik di Indonesia pun terbilang sangat terbuka lebar, hal ini karena tersedianya berbagai unsur tanaman yang berfungsi sebagai pupuk organik maupun pestisida nabati serta memungkinkan berkembangbiaknya musuh alami (Predator) bagi pengendalian siklus hidup hama dan penyakit.

Pupuk organik (kompos) sudah tidak asing lagi bagi petani-petani di Indonesia. Pada era pertanian klasik kompos yang biasanya terbuat dari kotoran hewan maupun sisa-sisa tumbuhan yang telah membusuk digunakan sebagai bahan andalan penyubur tanaman. Seiring dengan maraknya penggunaan pupuk kimia keberadaan pupuk organik pun mulai ditinggalkan oleh para petani.

Begitu-pun dengan perkembangan hama dan penyakit , banyak yang menilai hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor , seperti ; anomali cuaca dan rusaknya ekosistem alam. Tetapi meningkatnya hama dan penyakit tanaman dewasa ini juga tidak menutup kemungkinan karena berkurangnya musuh alami (predator) di alam bebas, sehingga terjadi ketidak seimbangan ekosistem. Contohnya; mewabahnya hama tikus dikarenakan populasi ular yang sudah langka, mewabahnya wabah belalang karena menurunnya populasi burung pemakan belalang, dan lain sebagainya.

Disamping penggunaan musuh alami untuk pengendalian hama dan penyakit, penggunaan pestisida nabati juga sangat mungkin untuk diterapkan. Indonesia memiliki varitas tumbuhan obat untuk penggunaan pestisida nabati. Penggunaan pestisida nabati ini juga sudah tidak asing lagi penggunaannya oleh para petani tradisional. Seperti penggunaan tembakau untuk mengusir hama wereng dan lain sebagainya. Di era sekarang ini pun semakin banyak ditemui beberapa ekstrak tanaman untuk menanggulangi hama dan penyakit, seperti penggunaan ekstrak lengkuas untuk pengendalian penyakit layu pada pisang, ekstrak daun siri untuk mengurangi kebusukan pada buah salak dan tentunya masih banyak lagi model pengendalian hama terpadu dengan menggunakan teknik non kimiawi dengan menggunakan ektraks tumbuhan yang berfungsi untuk mengendalikan Hama dan Penyakit pada tanaman.

Pertanian organik memang tidak memberikan reaksi instan pada hasil-hasil pertanian, akan tetapi dengan pelaksanaan pertanian organik akan membawa pertanian berjangka panjang dan memberikan solusi bagi tersedianya bahan pangan yang sehat. Oleh karena itu di era pertanian modern sekarang ini, penerapan pertanian organik mutlak diterapkan, secara gradual dan sistematis para petani sedikit demi sedikit dikurangi ketergantungannya terhadap bahan-bahan kimia.

Penerapan pertanian organik bisa berjalan dengan beberapa syarat : pertama, ada political will dari pemerintah dengan penerapan program-program pertanian organik, kedua, didukung oleh tenaga penyuluh yang kompeten dan langsung terjun ke lapangan (petani), ketiga, bekerja sama dengan lembaga riset/perguruan tinggi untuk mendapatkan temuan-temuan baru di bidang pertanian organik. Kerjasama dengan peneliti dan Perguruan Tinggi ini penting agar penemuan-penemuan hasil penelitian iitu dapat diaplikasikan dalam bentuk nyata didunia pertnian, bukan hanya sebagai karya ilmiah yang dibukukan dan dijadikan referensi di perpustakaan-perpustakaan tanpa aplikasi nyata.

Dengan terlaksanananya sistem pertanian organik, berarti lepasnya ketergantungan petani dari pupuk dan obat-obatan kimia, masa depan pertanian di Indonesia akan semakin baik, para petani bisa mandiri serta produk pertanian jelas semakin berkualitas. Semoga.

Senin, 12 Desember 2011

ANI-ANI -Tradisi Panen Padi yang Hampir “Telah” Punah-


Padi (pari) merupakan komidatas andalan yang dibudidayakan oleh sebagian besar masyarakat Solokuro. sebelum digatikan dengan padi varietas unggul (jenis IR, 64 dan lain-lain), padi yang ditanam oleh masyarakat merupakan varietas lokal.

Padi varietas lokal ini memiliki banyak perbedaan dibandingkan dengan padi varietas unggul “yang lazim masyarakat sebut pari endek”. Perbedaan yang paling mencolok adalah tampilan fisiknya, padi lokal yang lazim disebut pari jero’ memiliki ukuran batang lebih besar dan lebih tinggi dibandingkan dengan padi varietas unggul. Ukuran batang padi lokal bisa dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan batang padi varietas unggul, mungkin karena ukurannya yang tinggi dan besar itu sehingga batangnya pun bisa kokoh berbentuk bulat beruas-ruas, sehingga damen padi lokal juga kurang baik jika dijadikan pakan ternak. Tapi bagi anak-anak kecil batang padi itu bisa dijadikan sebagai bahan pembuat demenan.

Perbedaan lainnya adalah masa atau usia tanam hingga panen. Padi lokal memiliki usia tanam lebih lama dibandingkan dengan padi kualitas unggul. Jika padi unggul bisa dipanen dalam waktu tiga bulan, padi lokal memerlukan waktu antara empat sampai empat setengah bulan.

Demikian juga dengan bentuk bulir/biji padi, padi lokal memiliki bulir yang lebih besar dan lebih banyak dibanding dengan padi varietas unggul.

Sejatinya padi lokal memiliki banyak kelebihan diantaranya adalah bulir yang dihasilkan lebih besar dan lebih banyak. Rasa padi lokal juga lebih enak dan yang pasti kandungan gizi padi lokal lebih baik dari pada padi varietas unggul. Untuk masalah gizi ini, mungkin sudah menjadi rahasia umum jika padi merah memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Padi merah atau lazim disebut ‘pari gogo’ atau ‘pari brendel kata orang Payaman’ merupakan salah satu jenis varietas lokal yang sering ditanam oleh masyarakat Solokuro, disamping ada jenis lain sepeti ‘pari ketan’ yang juka sangat nikmat jika diolah menjadi aneka jenis jajanan, serta ‘pari putih’ yang unggul dalam kualitas cita rasa.

Namun, padi varietas lokal kini sudah sangat jarang sekali ditemui. Faktor efektivitas baik masa panen, perawatan, maupun cara panen “mungkin” menjadikannya tersisih dari persaingan dalam merebut simpati para petani. Petani lebih memilih pari cetek yang lebih cepat panen. Seiring dengan semakin jarangnya ‘atau mungkin sudah tidak ada’ tanaman padi varietas lokal, beberapa kegiatan khas mengenai tata cara perawatan dan pengelolaan padi lokal tersebut juga menghilang dari dunia per-ngalasan ”baca; per tanian” kita.

Menanam padi lokal hampir pasti dilakukan dengan cara ‘ditampek’ tidak dengan cara ditandur sebagaiman pari endek (walaupun pari endek juga bisa dengan cara ditampek). Setelah beberapa bulan, padi yang sudah meninggi dan mungsu (berbuah) sangat rentan dengan kondisi ‘rebah’yakni padi yang tidak mampu berdiri tegak karena terpaan angin, dan biasanya para petani akan mengikat batang padi dengan ikatan-ikatan kecil agar batang padi dapat menyatu dan kembali berdiri tegak, disamping itu, dengan mengikuti garis galengan padi juga akan dipagari dengan tali ‘uyun’ agar batang padi tidak rebah.

Satu lagi rutinitas sebagai bagian dari pengelolaan pari lokal yang sudah tidak bisa ditemui lagi adalah ani-ani yang merupakan cara memanen padi jenis jero ini. Berbeda dengan ‘ngedhos’ yang lebih praktis, ani-ani memiliki tingkat kesulitan yang njlimet. Memakai alat potong yang juga disebut ‘ani-ani, proses memanen ini biasanya dilakukan oleh para ibu-ibu. Caranya adalah ani-ani diapit di tangan kanan kemudian dipakai memotong satu per satu, helai demi helai pangkal dahan padi sedangkan tangan kiri membawa hasil padi yang sudah dipetik. Helaian padi yang suda panen tersebut akan dikumpulkan kemudian di-agem atau digem. Ageman padi ini biasanya memiliki ukuran yang hampir sama walaupun dilakukan dengan kiro-kiro (perkiraan). Kalau ngeni merupakan bagian ibu-ibu, untuk urusan ngagem biasanya menjadi tugas bapak-bapak disamping karena butuh tenaga yang kuat untuk mengikat juga untuk angkut-angkut padi tersebut. Setelah semua proses selesai, ageman padi tersebut akan dibawa pulang dengan cara dipikul pakai pikulan pucuk-an maupun dengan wadah boran (yang sekarang juga sudah mulai langka).

Ada yang unik dari kegiatan ani-ani ini, pihak pemanen akan mendapatkan bantun dari beberapa ibu-ibu yang sengaja menjajahkan jasa untuk ikut andil dalam kegiatan panenini. Para ibu-ibu itu biasanya berangkat dari rumah dengan berbekal alat ani-ani ditangan. Mereka akan keliling ke ladang-ladang, mencarai di mana ada area padi yang sedang dipanen. Kegiatan ibu-ibu itu lazim disebut ‘derep. Jika mendapati pemilik lahan yang sedang memanen, ibu-ibu derep itu akan menawarkan jasanya dengan cara bertanya kepada si empunya ladang...’ape direwangi ta yu...?’ yang artinya ‘apa panennya membutuhkan bantuan..?’ bagi yang membutuhkan jasa, tawaran tersebut akan mendapat sambutan ‘iyo...nang mreneo...’ iya silahkan ke sini, atau ‘ora...di-eni dewe wae...wong mek saitik wae kok...’ tidak di-eni sendiri saja wong cuma sedikit ini itu jawaban yang disertai alasan jika si pemilik ladang tidak membutuhkan jasa derep.

Selanjutnya ibu-ibu derep ini tidak mendapatkan imbalan uang melainkan mendapat bagian padi hasil panen yang lazim disebut ‘bawon’. Ukuran bawon ini biasanya diukur atau ditakar dari hasil mereka memanen padi. Sang tuan rumah-pun tidak perlu repot-repot menyediakan makanan dan minuman, karena umumnya ibu-ibu derep itu membawa sendiri bekal makanan dan minuman mereka masing-masing.

Panen telah usai dan matahari telah memerah diufuk barat, para petani itu pulang dengan hasil panennya masing-masing. Anak-anak kecil yang mengikuti proses panen ini juga menambah keceriaan waktu pulang dengan meniupkan demenan dari batang padi. Teeet....teeet...teet.... riuh memang suasana ngeni pari

----oOo----

Sesampai di rumah, padi akan dijemur keesokan harinya dengan cara di-eler, setelah kering padi tersebut digem lagi dan disimpan dalam sebuah wadah besar yang disebut bonang. Terbuat dari anyaman bambu, bonang merupakan bentuk raksasa dari boran. Setiap rumah memiliki bonang sebagai tempat padi, dan inilah lumbung untuk persediaan pangan beberapa bulan dan tahun ke depan.

jika hendak dikelolah menjadi beras, ageman padi tersebut akan kembali dijemur untuk beberapa saat, kemudian di ikat kecil-kecil. Satu agem bisa menjadi puluhan ikat kecil. Setelah itu, padi yang telah diikat tersebut akan dirontokkan dengan cara ditumbuk atau ditutu. Alat nutu ini berbentuk palu yang terbuat dari potongan batang kayu sedang yang disebut ganden. Bentuk ganden ini sangat khas, sehingga jika ada anak kecil yang memiliki bentuk kepala yang memanjang ke belakang (seperti milik teory henry-lah) anak tersebut sering diejek dengan julukan bocah ngganden sebagai penerjemahan kepala yang mirip ganden semoga dengan hilangnya alat ini termonologi ngganden juga akan hilang kosa kata Solokurois.

Setelah butiran-butiran gabah rontok, kemudian akan diolah menjadi beras. Mesin giling beras belum ada kala itu, sehingga proses membuat beras-pun dilakukan dengan cara menutu disebuah alat tutu bernama lesong. Begitu rumit, tapi proses demi proses selalu melibatkan nilai kekeluargaan, kegotong-royongan dan tentu saja seduluran.

Kamis, 08 Desember 2011

Eksotisme Jambu Klampok


Beberapa hari yang lalu, saya dipaksa oleh seorang teman untuk jalan-jalan ke salah satu mall. Agak terpaksa sih, tapi apa daya susah untuk menolak. Disamping saya tidak mempunyai rencana belanja saya juga tidak hoby jalan-jalan di mall.

Sampai di tujuan, saya bingung mau membeli apa, jalan ke sana ke mari tidak ada nafsu untuk berbelanja. Ya mungkin ada faktor dompet juga sih...akhirnya iseng-iseng saya menuju tempat yang paling save untuk kondisi kantong yaitu buah-buahan dan langkahku tertuju pada buah warna merah yang sudah dikemas secara menarik. Buah itu begitu familiar, dulu di desa hampir setiap rumah ada tanaman buah itu walaupun kini sudah semakin jarang.

Kemecer dengan rasanya yang khas, akhirnya aku ambil buah yang sudah dalam kemasan box itu. Agak terbelalak begitu melihat harganya, dalam 1 kilo gram dibandrol dua puluh satu ribu rupiah. Mak...mahal amat, perasaan dulu di desa buah ini jarang ada yang memperjual belikan, kenapa di mall besar ini harganya begitu tinggi? Tak apalah walaupun agak mahal tetap ku beli buah kenangan masa kecil itu, ditambah dengan rasa kemecer yang luar biasa membuatku susah untuk tidak membeli buah ini.

Disela menikmati buah kelampok, terbesit pikir kenapa ya pohon ini sudah begitu jarang dijumpai di kampungku? Padahal dulu berbagai jenis kelampok dapat kita dapati secara melimpah, kelampok merah ada berbagai jenis dan juga berbagai jenis kelampok putih yang manisnya gak karu-karuan.

Mungkinkah pekarangan sudah menjadi barang mahal tergerus oleh desain bangunan rumah yang semakin mepet jalan sehingga pohon kelampok itu dipandang sebagai tanaman pengganggu? Ah sedih rasanya tetapi saya pikir tidak juga, masih banyak lahan untuk membudidayakan pohon ini. Atau mungkinkah tanam ini dianggap kurang keren karena kesannya yang ndeso. Kalau anggapan itu benar sungguh sangat disayangkan, karena kini kelampok telah naik tahta dijajakan di area perbelanjaan elit, dan juga disajikan sebagai suguhan kalangan elit pula. Kelampok tidak hanya sebagai pelengkap bahan rujak, kini disamping dikonsumsi sebagai buah segar, kelampok juga banyak dikelolah dalam berbagai bentuk makanan olahan seperti manisan dan lain-lain.

Sebagaimana halnya dengan buah tropis lainnya, kelampok memang tidak bisa bertahan lama. Karenanya buah ini kurang memiliki daya jual, tapi jelas itu juga bukan alasan tepat untuk menelantarkan buah ini. Bahkan melalui berbagai teknik pasca panen yang modern, kelampok-pun kini bisa bertahan lebih lama dan awet.

Tentang kelampok yang naik tahta ini juga saya peroleh melalui informasi media tentang prestasi sebuah desa di daerah Demak Jawa Tengah. Desa tersebut dikenal sebagai sentra jambu kelampok, bahkan Kelampok dari desa ini suda di ekspor ke berbagai negara diantaranya Arab Saudi dll. Ah.. andai saja desaku bisa seperti ini..anganku.

Lagian, kelampok merupakan jenis tanaman yang tidak rewel, gampang dibudidayakan, gak perlu perawatan khusus dan cenderung imun terhadap berbagai serangan hama dan penyakit, paling mentok-mentok ya serangan uler kelampok yang mudah diatasi. Yang penting diperhatikan dalam perawatan adalah buah kelampoknya, kelampok sangat rawan serangan ulat buah, karenanya perlu perlakuan agak khusus. Kalau ingin hasil yang maksimal buah kelampok kudu di-buntel atau dibungkus, disamping untuk melindungi dari serangan ulat, buah yang dibuntel akan memiliki kualitas yang sangat baik, warnahnya merah merona atau putih bersih serta bentuknya akan tambah montok dan mengkilat, tentu rasanya juga akan semakin maknyus.

So, piye dulur ? ayo nang diiciri kelampok maneh latar-latare disamping adhem sebagai peneduh kelampok juga menghasilkan nilai tambah, syukur-syukur bisa diekspor, amin..... ayo nyangkok kelampok nang diicir !!!

Kamis, 24 November 2011

ODE BUAT PAHLAWAN TANPA TANDA JASA

Kau bangun di pagi buta disaat orang masih terlelap, melangkahkan kaki menuju mushollah atau masjid. Subuh telah tiba, dan adzan-pun kau kumandangkan. Kau pimpin jama’ah sholat subuh dan anak-anak kecil yang tidak seberapa itu kau bimbing untuk melafadzkan ayat-ayat Qur-an.

Mentari mulai bersinar, di pagi buta itu kau beranjak menuju ladang, ada pekerjaan ringan yang harus diselesaikan. Ya, pekerjaan ringan sekedar memetik beberapa sayur dan buah, setelah itu kau pulang membawa hasil bumi yang masih segar itu.

Waktu terus berjalan tugas lain segera menanti, setelah mandi kau berganti pakain biasanya baju safari kusam atau baju batik murahan, dengan tas yang sudah berusia uzur kau tegakkan langkah menuju sebuah madrasah sedrhana tempat kau mengajarkan ilmu pada generasi muda.

Dari satu kelas ke kelas lain, dengan tekun dan penuh kesabaran kau melaksanakan tugas mulia itu, disela-sela mengajar kau sempatkan menyantap pisang goreng berserta teh yang sudah dingin untuk sekedar mengganjal perut. Pisang goreng dan teh buah keikhlasan dari iuran murid-muridmu.

Lebih dari separuh waktu hari itu kau habiskan untuk mengajar. Matahari telah terik dank au-pun beranjak pulang, setelah memimpin sholat dluhur dibawah terik matahari yang panas dengan memanggul cangkul kau beranjak ke ladang, kini tugas-tugas berat menantii hingga sore menjelang. Di ladang yang yang luas itu kau mencangkul, mengolah ladang, dan merawat tanaman. Di ladang inilah kau bisa berharap akan hasil untuk menghidupi istri dan anak-anakmu.

Sore menjelang, kaupun segera pulang, letih dan lelah menjadi bagian dari subuah kenikmatan yang harus kau syukuri hari ini. Setelah mandi, tak lama berselang adzan magrib-pun berkumandang, dan kaupun segerah menuju mushollah. Anak-anak kecil kini jumlahnya lebih banyak telah menanti untuk kau ajarkan ayat-ayat suci, satu persatu anak-anak itu menunggu giliran untuk kau ajar mengaji hingga tak terasa waktu isya’ telah tiba.

Begitulah hari-harimu, kau mengajar dengan ketulusan, kau mengajar tanpa mengharapkan imbalan, kau-lah seorang guru yang sebenarnya. Kau tidak pernah bertugas hanya karena mengharap gaji, apalagi sertifikasi. Apa itu….? Bagimu ketulusan dan bakti muliamu itulah sertifikasi.

Guru……jangan sampai bakti dan ketulusanmu itu ternoda dengan mereka-mereka yang berstatus guru palsu. Tidak ada ketulusan, yang dikejar hanyalah uang, bahkan ada yang rela menyogok untuk mengejar statusmu …’guru’, Naudzubillah…!

Guru….semoga ilmu yang kau ajarkan merupakan ilmu yang bermanfaat, berkah dan tidak menjadikan mudlorot bagi alam semesta. Ilmu yang kau ajarkan akan menjaga dunia ini dari penguasa yang lalim yang mengabaikan kejujuran. Semoga muridmu adalah mereka yang menjadi pendekar-pendekar kebenaran, bukan mereka yang merebut statusmu namun mengedepankan ego demi gengsi duniawi.

KAULAH PAHLAWAN TANPA TANDA JASA ITU GURU…………….TERIMAKASIH

Kamis, 17 November 2011

ini ceritaku...mana ceritamu...???

KETIKA MUSIM HUJAN TIBA


Setelah kemarau panjang, hujan-pun akhirnya turun, warga-pun menyambutnya dengan suka cita. Sebelum datangya musim hujan terlebih dahulu masyarakat Solokuro mempunyai tradisi Tumbu’an pada tanggal 10 bulan 10. Masyarakat biasanya pergi ke ladang dengan membawa peralatan bajak seperti krakal atau garu, mereka ngrakal dan nggaru di tanah yang masih gersang itu, mungkin ini pertanda kesiapan bahwa sebentar lagi mereka akan disibukkan dengan aktivitas ke sawah/ladang.

Hujan pertama datang begitu derasnya, memberikan

harapan baru bagi semua mahluk di bumi. Hujan tidak berhenti bahkan hingga malam tiba, suasana dingin, warga Solokuro yang taat itu tetap menuju mushollah dan masjid dengan membawa capil atau pelindung hujan seadanya. Selepas isya’ mereka pulang untuk beristirahat, tapi hujan masih belum berhenti hingga masyarakat terlelap ditengah lebatnya hujan.

Subuh berkumandang hujan telah reda, mentari di ufuk timur memberi kehangatan dengan sinar paginya yang cerah, sungguh suasana yang sangat menyenangkan. Dan ..ini yang menjadi kampung riuh, “Laron”. Iya laron begitu banyak berterbangan rendah dijalanan. Anak-anak kecil-pun dengan riang berlarian kesana kemari untuk menangkapnya.

Ri-ri-ndek…ri-ri-ndek ucap beberapa anak kecil itu agar laron-laron itu terbang me-rendah dan bisa mereka tangkap. Laron-laron itu kemudian mereka kumpulkan dan jika sudah mendapatkan jumlah yang banyak akan diolah dengan cara dibakar, digorang, atau menjadikannya isian rempeyek, bahkan tidak sedikit yang langsung memakannya mentah-mentah. Laron memang sangat lezat, tidak salah anak-anak desa Solokuro bahkan orang dewasa begitu menyukainya, tidak sedikit dari mereka yang memanfaatkan sebagai lauk pauk, hitung-hitung menghemat biaya belanja ikan.

Tidak hanya laron yang bisa dinikmati dimusim hujan, tapi juga jangkrik. Tapi yang satu ini bukan dinikmati untuk dimakan, tapi disukai karena suara ‘ngerik-nya’ yang merdu. Di musim hujan ini anak-anak kecil desa Solokuro pada berburu jangkrik di tegalan-tegalan. Jangkrik dengan tubuh yang besar dan berwarna hitam mengkilat biasanya yang dicari, karena memiliki suara ‘erikan’ yang merdu. Jika suda didapat, jangkrik-jangkrik ini akan ditenpatkan pada susunan bambu-bambu kecil yang lazim disebut ‘krangkeng’. Krangkeng yang berisi jangrik ini kemudian digantung di sudut-sudut ruangan, tidak lupa jangkrik diberi makanan kacang tanah dan ‘gebingan’. Dan suara jangkrik itu mengahantarkan anak-anak desa itu terlelap dalam mimpi-mimpi indah mereka jika malam tiba.

Hujan yang masih turun hingga beberapa hari tidak perna berhenti untuk memberikan manfaat bagi umat manusia, kali ini giliran jamur dan ‘gundik’. Jamur akan tumbuh diantara semak dan dibawah rimbun pepohonan. Terkadang juga disamping kiri dan kanan galengan. Ada beberapa jenis jamur yang memiliki cita rasa lezat. Pertama jamur Barat dan Jamur Glatik, kedua jamur ini berukuran besar. Jamur ini harus cepat diketemukan di pagi hari, sebab jika siang hari jamur akan membusuk dimakan ulat/set. Kedua adalah Jamur Menr, jenis jamur ini bisa lebih tahan kapan saja dipetik. Jamur ini berwarna putih bersih namun berukuran sangat kecil, karena ukurannya ini jarang yang mau mengambil jamur menr ini untuk dimakan.

Jamur diapakan saja pasti lezat, yang tidak sempat membawanya pulang untuk digoreng atau dipepes, dibakar di ladangpun sudah sangat lezat apalagi dibungkus dengan daun kunir yang menamba aroma panggangan jamur semakin sedap. Hmm….uenake cah…komentar para penikmat jamur tunon itu.

Satu lagi yang tidak boleh terlewat disaat musim hujan adalah ‘gundik’. Walaupun namanya berkonotasi negatif karena bisa diartikan dengan wanita simpanan, namun gundik ini sama sekali tidak ada kaitannya, justru ia merupakan raja yang dijaga oleh ribuan tentara. Ya, gundik merupakan sebutan bagi raja rayap ia memiliki kerajaan yang disebut ‘pundong’. Pundong ini akan semakin lama akan semakin membesar, karena terus dibangun oleh pasukan rayap. Tapi jika masih musim hujan pundong-pundong kecil banyak yang baru mulai dibangun sehingga dengan mudah untuk mendapatkan ‘gundik

Pundong yang besar terdapat gundik yang besar pula, tetapi dibutuhkan tenaga ekstra untuk mendapatkannya. Bahkan kadang butuh 2-3 orang untuk menggalinya Tapi jika masih kecil, apalagi yang baru dibangun dan masih basah sangat muda untuk mendapatkan gundik bahkan dengan menendang gundukan pundong pun ‘gundik’ sudah didapatkan. Gundik yang sudah didapat kemudian dibakar…hmm dari aromanya sudah terbayang kelezatannya, bahkan yang masih mentah-pun gundik juga sangat lezat.

Musim hujan memang penuh berkah, keceriaan dan kebahagiaan. Saat angonan dulu, berburu laron, nggolek jamur dan ngeduk gundik merupakan kesenangan yang luar biasa. Sungguh kebahagiaan di masa kecil yang penuh dengan keceriaan. ..Eee...weduse wes nglirep.....muleh-muleh...!!!


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India